Islam lebih menegaskan bahwa ilmu pengetahuan bukan sekedar kebutuhan hidup, tetapi menjadi kewajiban agama, kewajiban yang bernilai Illahiyah. Manusia yang tidak mau menuntut ilmu, dengan demikian menjadi manusia yang tidak sadar sebagai manusia, bahkan sebagai hamba Allah SWT. Sungguh merugi dan hina kedudukan manusia yang tidak mau menuntut ilmu, hina dalam pandangan manusia, maupun dalam pandangan Allah SWT.
Lantas ilmu apakah yang menjadi kewajiban bagi manusia? Tentu tidak semua ilmu wajib dicari. Secara prinsip, maka ilmu yang wajib dicari adalah ilmu yang mengantar atau memenuhi kewajiban manusia. Maksudnya, ketika sebagai muslim shalat adalah wajib, maka ilmu tentang shalat menjadi wajib. Mencari penghidupan untuk memenuhi kebutuhan adalah wajib, maka ilmu untuk mencari penghidupan juga wajib. Inilah prinsip dasar untuk membantu, mana ilmu yang wajib dan tidak wajib. Dari semua yang wajib itu apakah ada yang paling wajib? Ya, ilmu mengenal Allah SWT, adalah wajibnya wajib, maka ilmu mengenal Allah SWT, perintah dan larangan-Nya, atau singkatnya ilmu agama adalah ilmu yang paling wajib, dari sekian ilmu yang dibutuhkan manusia dalam hidupnya.
Berguru Langsung
Rasulullah SAW menyatakan, “shalatlah sebagaimana engkau melihat aku shalat. ”Hadits ini sebenarnya mengandung anjuran tentang mencari Ilmu. Ketika hendak belajar shalat, maka cara belajar yang benar dan terbaik adalah melalui proses melihat langsung. Rasulullah SAW mengajarkan kepada para sahabat untuk melihat prosesi Rasulullah SAW shalat untuk belajar shalat. Ilmu agama, apalagi yang bersifat praktek, maka melihat langsung, bertemu langsung kepada sumber ilmu menjadi wajib. Belajar agama tidak boleh hanya mendengar kabar saja, tidak boleh hanya katanya si Anu. Praktek dari belajar langsung kepada sumber asli adalah apa yang dipraktekkan di pesantren. Para kyai yang mengajar di pesantren adalah mereka yang telah belajar ilmu agama kepada mereka yang belajar dengan sanad (rantai ilmu), bersambung kepada Rasulullah SAW.
Hadits tersebut juga mengindikasikan untuk tidak belajar hanya kepada buku semata, dimana buku bukanlah subyek yang bisa mengajarkan ilmu. Ia hanya berisi ilmu, informasi dan keterangan tentang ilmu, tetapi ia tidak bisa mengajarkan. Apalagi itu menyangkut ilmu agama yang tidak hanya mengandung unsur pengetahuan, tetapi mengandung aspek praktek dan psikologis. Bagaimana orang belajar sabar, jika hanya mengandalkan buku? Maka belajar sabar kepada seseorang yang sudah memiliki pengetahuan dan praktek sabar adalah belajar yang sangat tepat.
Syarat Menuntut Ilmu
Syair atau nadhom “Alala” dalam kitab Ta’lim Muta’allim yang populer di pesantren menyebutkan beberapa syarat menuntut Ilmu. Ada enam syarat yang harus dipenuhi oleh pencari ilmu, yaitu: cerdas, semangat, sabar, biaya, petunjuk guru dan waktunya lama. Agar berhasil mendapatkan ilmu maka seseorang harus punya bekal cerdas, artinya mau berpikir, pikirannya dijalankan. Berikutnya adalah semangat, rakus pada ilmu, besar rasa ingin tahunya. Perlu biaya, baik uang dan materi. Tidak bisa seorang penuntut ilmu tanpa bekal apapaun. Berikutnya harus sabar, sabar menempuh waktu yang panjang, sabar menghadapi ujian dan sabar mengikuti petunjuk guru. Tidak bisa menuntut ilmu hanya mengandalkan buku, petunjuk guru harus ada. Siapapun mampu memenuhi syarat-syarat ini, Insya Allah akan berhasil dalam belajar.
Ust. Sururi Arumbani
Lembaga Amil Zakat dan Infaq Al-Ma'un Sadar Berbagi …