KH. Saifuddin Zuhri (1919-1986)
SANTRI, WARTAWAN DAN PEJUANG
Saifuddin dilahirkan oleh seorang ibu bernama Siti Saudatun, istri Mohammad Zuhri, persisnya pada 1 Oktober 1919 di kota kecil Kawedanan, Sokaraja Tengah, Banyumas, Jawa Tengah. Saifuddin dilahirkan dari sebuah keluarga yang sederhana. Ibunya beprofesi sebagai pengrajin kain baik, sedang ayahnya seorang petani. Namun beruntunglah Saifuddin Zuhri. Ia hidup dalam tradisi belajar yang hidup subur di tengah lingkungannya.
Keluarga dan lingkungan termasuk faktor penting yang mengantarkan Saifuddin menjadi tokoh yang bertakwa, berwatak, terampil dan selalu haus akan ilmu pengetahuan. Pada masa kecil, pagi dan siang hari, Saifuddin belajar di Sekolah dasar (umum) dan Madrasah Ibtidaiyah Al-Huda Nahdlatul Ulama. Pada malam hari ia mengaji al-Qur’an dan mempelajari kitab-kitab kuning di pondok pesantren yang bertebaran di daerahnya. Pada usia kanak-kanak ia telah fasih membaca al-Qur’an dan mengkhatamkan kitab Safinah, Qathrul Ghaits, al-Ajrumiyah dan kitab-kitab kuning lainnya.
Sekolah dan Bekerja
Tak puas terhadap ilmu yang direguk dikampungnya, Saifuddin Zuhri di usianya yang masih 17 tahun melakukan pengembaraan ke Kota Solo. Saifuddin menjadikan Madrasah Mambaul Ulum sebagai tempat menimba ilmu. Untuk menutupi biaya sekolahnya, Saifuddin bekerja sebagai staf koresponden surat kabar Pemandangan. Untuk menambah penghasilan, ia juga merangkap membantu surat kabar berbahasa Jawa, Darmokondo.
Pekerjaannya sebagai wartawan agak terganggu karena sekolah di Mambaul Ulum masuk siang. Karena itu, ia memilih pindah ke Madrasah Salafiyah. Di sekolah yang baru, Saifuddin hanya bertahan satu bulan, karena alasan yang sama; waktu belajarnya siang hari. Ia memilih berpindah belajar ke lembaga pendidikan Al-Islam yang sekolahnya masuk pagi.
Dengan menjadi wartawan, Saifuddin benar-benar ditempa daya kritis dan wawasan pengetahuannya, yang selanjutnya menjadi bekal kiprah besanya.
Menjadi Penulis Produktif
Tradisi menulis tampaknya telah menyatu pada diri Saifuddin Zuhri. Topik-topik tulisan yang diangkat bukan sekedar masalah intern NU atau masalah politik dalam negeri, melainkan juga masalah dunia internasional. Jenis tulisan beliau pun bervarasi, dari yang berbentuk artikel, ulasan dan komentar dalam tajuk koran yang dipimpinnya, sampai berbentuk analisis dan esai. Tak kurang dari 11 judul buku yang menjadi karya beliau.
Buku-buku karya beliau antara lain: Palestina dari Zaman ke Zaman (1947); Agama Unsur Mutlak dalam Nation Building (1965); KH. Abdul Wahab Hasbullah, Bapak dan Pendiri NU (1972); Guruku Orang-Orang dari Pesantren (1974); Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia (1979); Kaleidoskop Politik di Indonesia (tiga jilid, 1981); Unsur Politik dalam Dakwah (1982); Secercah Dakwah (1983); dan Berangkat dari Pesantren (1972).
Melalui karyanya, sesungguhnya beliau ingin menyatakan kepada generasi penerusnya agar tidak sekedar menikmati kekayaan yang telah ditinggalkan oleh para pendahulunya. Generasi baru itu, selain harus melestarikan tradisi yang baik juga menciptakan sesuatu yang baru untuk generasi berikutnya lagi.
Ditunjuk Bung Karno
Jum’at, 17 Februari 1962 Kiai Saifuddin Zuhri dipanggil Bung Karno menghadap ke Istana Merdeka. Dalam pertemuan itu Bung Karno meminta kepada beliau agar menjadi Menteri Agama, menggantikan KH. Wahib Wahab yang mengundurkan diri.
Mendapat tawaran itu, beliau tidak langusng menjawab mengiyakan. Kepada presiden Soekarno beliau malah minta waktu untuk terlebih dahulu bertemu dengan KH. Wahib Wahab dan para tokoh teras NU, khususnya KH. Wahab Chasbullah dan KH. Idham Chalid.
“Lho, mau mengerjakan tugas yang mulia kok pakai istikharah”, ujar Kiai Wahab, ketika Kiai Saifuddin Zuhri mengajukan usul untuk shakat istikharah. Mendapat jawaban itu, beliau masih bimbang dan ingin mendapatkan jawaban KH. Idham Chalid – kala itu sebagai Ketua Umum Tanfidziyah PBNU.
“Coba yakinkan aku, apa manfaatnya seandainya aku menjadi Menteri Agama,” kata beliau. “Jangan bertanya apa manfaatnya menjadi Menteri Agama, tetapi apa mudharat-nya kalau menolak,” jawab Kiai Idham Chalid.
Akhirnya, setelah meminta pertimbangan kepada beberapa ulama. KH. Saifuddin Zuhri dilantik menjadi Menteri Agama RI periode kesepuluh. Beliau memangku jabatan Menteri Agama sampai tahun 1967. Ketika menjadi Menteri Agama, banyak hal yang berhasil dilakukan, di antaranya mengembangkan IAIN dan meningkatkan kualitas dosen dan mahasiswa dengan mengirimkan ke berbagai Negara di Timur Tengah.
***
Pada akhir tahun 80-an, KH. Saifuddin Zuhri memiliki kebisaan baru yang tidak pernah diketahui oleh putra-putrinya. Setiap habis shalat dhuha, sekitar pukul 09.00, beliau keluar rumah dengan mengendarai mobil sediri. Menjelang dzuhur tiba, beliau sudah tiba kembali di rumah.
Kegiatan itu berjalan cukup lama tanpa ada satu pun anggota kelarga yang mengetahui. Sampai suatu hari, salah seorang putranya berhasil memergoki apa yang dikerjakan Kiai Saifuddin Zuhri di luar rumah. Bukan kepalang kagetnya ketika sang putra mengetahui apa yang dikerjakan beliau.
Rupanya, sehabis shalat dhuha, Kiai Saifuddin Zuhri pergi ke pusat perdagangan Glodok, Jakarta Pusat. Tanpa harus merasa jatuh gengsi, beliau berdagang beras. Ya, berdagang beras kecil-kecilan. Sampai akhir hayatnya, hidup beliau sangat bersahaja. Semasa menjadi pejabat dan tokoh penting, beliau sangat berpantang dengan budaya aji mumpung. [Tim Redaksi]
Disarikan dari buku “Menapak Jejak Mengenal Watak Kehidupan Ringkas 29 Tokoh NU”
Lembaga Amil Zakat dan Infaq Al-Ma'un Sadar Berbagi …