Breaking News

Buletin Al Ma’un Edisi VI

Ciri dan karakter generasi millennial ada tiga. Pertama, confidence, mereka ini orang yang sangat percaya diri, berani mengemukakan pendapat dan tidak sungkan-sungkan berdebat di depan publik. Kedua, creative, mereka adalah orang yang biasa berpikir out of the box (berpikir di luar dari yang umumnya), kaya akan ide dan gagasan dan mampu mengkomunikasikan ide dan gagasan itu dengan cemerlang. Ketiga, connected, mereka adalah pribadi-pribadi yang pandai bersosialisasi terutama dalam komunitas yang mereka ikuti, mereka juga aktif berselancar di sosial media dan internet.

Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia tentu saja juga memiliki jumlah generasi millennial muslim yang besar pula, karakter generasi millennial muslim tersebut tidak jauh berbeda dengan generasi millennial pada umumnya. Rasa ingin tahu yang besar untuk belajar agama pada generasi millennial muslim menyebabkan mereka melahap berbagai sumber informasi terkait agama, dan dengan rasa percaya diri yang tinggi mencoba mengartikulasikan pemahaman agama mereka secara kreatif kepada orang lain melalui sosial media.

Karena itu tidak heran agama menjadi salah satu topik yang paling sering diperbincangkan di sosial media Indonesia, Twitter dan Facebook, selain soal politik dan olahraga. Tidak jarang gesekan sering terjadi karena beda pemahaman soal aliran dan pemikiran agama, yang satu merasa paling benar dan menyalahkan yang lain. Bahkan kadang tuduhan bid’ah dan kafir gampang kita temukan di dunia maya. Sifat sosial media yang horizontal membuat seseorang yang baru mengenal agama bisa langsung memvonis sesat seorang ‘ulama yang sudah teruji keilmuwannya.

Rasa percaya diri yang tinggi itu kadang menyebabkan sebagian generasi millennial muslim “kebablasan”. Dengan berpegang pada prinsip “sampaikanlah walau hanya satu ayat”, mereka menggebu-gebu ingin berdakwah meski ilmu agama yang dimiliki masih belum sempurna. Kegigihan sebagian generasi millennial muslim ini sebenarnya patut kita hargai meski kadang memancing perdebatan soal khilafiah yang sudah berlangsung lama dan tidak produktif.

Belajar agama memang tidak mengenal waktu dan usia, ada yang sejak kecil sudah belajar agama dengan keras sehingga ketika menginjak dewasa pengetahuan agamanya sudah cukup baik, tapi ada juga sebaliknya saat masa kecil belajar agamanya masih kurang sehingga ketika menginjak dewasa mereka sangat bersemangat mengejar ketertinggalannya dalam bidang agama. Kepada generasi millennial model ini tentu kita berharap mereka terus belajar agama, jangan berhenti, cakrawala pengetahuan agama sangat luas dan beragam.

Dan kepada generasi millennial muslim yang pengetahuannya sudah baik, dampingilah mereka agar menemukan jalan keislaman yang baik, jangan kutuk mereka, jangan tinggalkan mereka. Yakinkan kepada mereka belajar agama yang benar harus melalui guru yang sudah teruji kemampuan agamanya, tidak bisa hanya bersumber dari buku atau tulisan di sosial media. Belajar tidak cukup hanya bermodal otak yang pintar, dari buku-buku yang kita beli, atau dari biaya yang kita punya.

Amirul Mukminin, Imam Ali Bin Abi Tholib Karamallahu Wajhah pernah berkata, “Tidak akan dapat ilmu yang bermanfa’at seseorang diantara kalian, kecuali dengan enam perkara, yaitu : harus cerdas, semangat, bersabar, memiliki biaya, memiliki guru pembimbing dan waktu yang lama.”

Hasanuddin Ali

Comments

comments

Pages ( 2 of 3 ): « Previous1 2 3Next »