Breaking News

Buletin Al Ma’un Edisi XV

Kenyataan kehidupan agama di atas telah berjalan semenjak berdirinya republik Indonesia dan bertahan sampai sekarang bahkan selanjutnya sekalipun tentu ada tarik menarik kepentingan antaragama dan diselesaikan secara demokratis.

Kalau sekarang kita lihat ada beberapa kasus-kasus konflik intern agama atau lintas agama, sesungguhnya baru terjadi semenjak reformasi tahun 1999. Reformasi di Indonesia memang menganut kebebasan dan keterbukaan penuh sehingga terjadi rongga-rongga yang karena belum kesiapan masyarakat di dalam menggunakan kebebasannya melahirkan konflik-konflik kasuistis. Bersamaan dengan itu, keterbukaan reformasi Indonesia mengakibatkan derasnya pengaruh internasional yang masuk ke Indonesia secara komprehensif baik bidang ideologi agama, politik, ekonomi, hukum pendidikan dan budaya.

Semestinya, esensi dan tujuan kehadiran agama di muka bumi adalah untuk memperkuat nilai-nilai-nila dan martabat kemanusian, kedamaian dan kemajuan peradaban dunia karena agama dimaksudkan untuk mencerahkan kemanusiaan bukan sebaliknya. Tetapi, kenyataan menunjukkan bahwa banyak persoalan-persoalan kemanusiaan di muka bumi ini muncul dari pemeluk agama, sekalipun persoalan-persoalan ini tidak berarti berasal dari ajaran agama mereka. Hal ini terjadi karena semata-mata kebenaran agama beserta ajarannya memiliki pengikut-pengikut yang tidak bisa sepenuhnya memahami secara utuh ajaran agama mereka.

Kurangnya pemahaman terhadap ajaran agama terjadi ketika pemeluk agama memiliki pemahaman yang parsial dan kurangnya pemahaman yang utuh terhadap hubungan antaragama. Kesalahan dalam pemahaman agama tak pelak menyebabkan kesalahan dalam menerapkan ajaran agama itu sendiri. Misalnya, jika umat beragama salah dalam memahami ritual dan aspek teologi agama mereka, maka kesalahan itu hanya berimplikasi kepada pengikut agama itu sendiri. Akan tetapi, jika mereka salah dalam memahami aspek-aspek sosial suatu agama, maka kesalahan ini akan berimplikasi secara luas bukan hanya terhadap pengikut agama itu sendiri tapi juga masyarakat secara luas seperti dalam bentuk ketegangan bahkan konflik sosial. Konflik sosial ini juga bisa terjadi dalam bentuk konflik antarnegara di dunia.

Setiap agama memiliki identitas dan kepribadiannya masing-masing. Antara satu agama dengan agama yang lain memiliki kesamaan dan perbedaan masing-masing. Kesamaan nilai-nilai agama diharapkan dapat menciptakan harmonitas sosial, keadilan, kesejahteraan dan peningkatan standar kehidupan manusia. Kesamaan ini tidak boleh dibeda-bedakan.

Selain memiliki kesamaan, masing-masing agama memiliki perbedaan-perbedaan terutama dalam masalah teologi dan ritual. Dengan demikian, untuk mencapai harmonitas dan kerjasama yang baik dalam jangka waktu panjang, hal-hal yang berbeda ini tidak boleh dipaksakan untuk menjadi sama untuk semua agama. Dengan cara ini, pemeliharaan kerjasama antaragama dapat dipastikan sesuai dengan ajaran setiap keimanan masing-masing agama.

Selain faktor kesalahpahaman dalam memahami agama-agama, terdapat faktor lain yang menjadi alasan terjadinya konflik sosial dan konflik antaragama yang didasarkan pada kepentingan non-agama yang mendompleng ajaran agama dan menggunakan agama sebagai motif untuk tujuan-tujuan yang tidak ada kaitannya dengan agama seperti kepentingan politik, ekonomi dan budaya yang ‘diagamakan’. Kepentingan-kepentingan ini mungkin berasal dari kelompok-kelompok tertentu yang menyatakan motif-motif mereka atas nama agama dan bahkan menggunakan tema-tema agama.

Tugas kita selaku komunitas umat beragama adalah memberikan kebebasan kepada semua umat beragama untuk memahami ajaran agamanya secara benar dan mengurangi kesalahpahaman dalam memahami agama yang mengantarkan pada konflik sosial antarsesama manusia. Selain itu, kita harus secara bijaksana memisahkan antara persoalan-persoalan yang dikategorikan sebagai persoalan agama dengan persoalan-persoalan yang disalahgunakan sebagai persoalan agama.

Seringkali, para otoritas politik menggunakan isu-isu yang diberi label agama, yang esensinya sebenarnya tidak ada kaitannya sama sekali dengan agama. Dalam hal ini, kita harus mampu melakukan identifikasi agama di atas semua interest. Jika agama mampu diletakkan di atas kepentingan-kepentingan itu, maka agama akan mampu menjadi penerang bagi generasi yang akan datang. Sebaliknya, jika kepentingan agama diletakkan dibawa kepentingan-kepentingan non agama, maka yang terjadi adalah pertikaian dan konflik yang melibatkan semua penganut agama.

Selain itu yang dapat kita lakukan selaku umat beragama adalah mendekatkan perilaku umat beragama terhadap tata nilai luhur agamanya. Karena tingkat pemahaman agama masing-masing pemeluk agama sangat beragam. Mungkin mereka yang tidak memahami ajaran agama secara sempurna akan melakukan tindakan-tindakan yang anarkis yang sama sekali tidak diajarkan oleh agama mana pun.

Comments

comments

Pages ( 2 of 3 ): « Previous1 2 3Next »