Dengan meneladani sifat Allah al-‘Alim (Mahamengetahui), akan lahir darinya upaya berkesinambungan untuk menambah ilmu. Dalam upaya tersebut, yang bersangkutan dituntut agar dapat menggunakan secara maksimal seluruh potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya, yakni pancaindra, akal, dan kalbu untuk meraih sebanyak mungkin ilmu yang bermanfaat, bukan hanya yang berkaitan dengan dunia empiris, tetapi juga yang bersifat non-empiris yang hanya dapat diraih dengan kesucian jiwa dan kejernihan kalbu.
Dengan meneladani sifat Allah as-Salam (Mahadamai/Pemberi kedamaian kepada siapa dan apa pun yang wajar menerimanya), seseorang semestinya menyebarkan kedamaian ke setiap sudut persada bumi ini, sekaligus menyadari bahwa damai ada dua macam, damai pasif dan damai aktif. Jika Anda tidak memuji, tidak juga mencela, tidak menjauh, tidak juga mendekat, tidak memberi dan tidak pula menghalangi, tidak berkorban, tetapi tidak juga mengorbankan, maka ketika itu Anda akan hidup damai bersama siapa pun, walaupun ini baru terbatas pada damai pasif. Sedang damai aktif adalah memberi sesuatu yang positif kepada pihak lain.
Sifat-Nya al-Qawiy (Mahakuat) perlu juga diteladani oleh manusia sehingga ia menjadi sosok yang kuat, baik lahir maupun batin, mental dan spiritual, tapi harus diingat bahwa sifat Allah ini dipaparkan al-Qur’an dalam konteks menghadapi para pembangkang. Perhatikan ayat-ayat berikut. “Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Shaleh beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan (Kami selamatkan) dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa. (QS. Hud [11]:66). Demikian juga firman-Nya: “Mereka tidak mengenal/mengagungkan Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (QS. Al-Hajj [22]: 74).
Dalam QS. Al-Anfal [8]: 52, Allah berfirman: “Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi amat keras siksaan-Nya. Kekuatan yang dimiliki pada prinsipnya dimaksudkan untuk menggetarkan musuh agar mereka tidak berani melakukan pelecehan/pelanggaran hak. Firman-Nya dalam QS. Al-Anfal [8]: 60 menegaskan prinsip di atas: “Siapkanlah untuk menghadapi mereka (musuh-musuh) kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, dan musuhmu, serta orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.
Sifat Allah al-Mutakabbir (Mahaangkuh) pun wajar diteladani pada tempatnya. Al-Mutakabbir adalah yang memandang selainnya hina dan rendah. Sifat ini tidak mungkin disandang, kecuali oleh Allah SWT karena hanya Dia yang berhak dan wajar bersikap demikian.
“Setiap yang memandang keagungan dan kebesaran hanya miliknya secara khusus, tanpa selainnya, maka pandangan tersebut salah, kecuali Allah SWT.,” demikian pendapat al-Ghazaly. Namun, perlu dicatat bahwa sifat kibriya’ (keangkuhan) ini ditujukan oleh-Nya kepada mereka yang angkuh, yang memandang serta memperlakukan selainnya hina dan rendah. Kerena itu pula, populer ungkapan yang menyatakan bahwa: “Bertakabbur atas orang-orang yang bertakabbur adalah sedekah”
Demikian seterusnya–Bacalah karya-karya yang menjelaskan makna-makna ‘Asma’ al-Husna antara lain karya Imam al-Ghazaly, yaitu al-Maqshad al-Asna, juga karya M. Quraish Shihah, Menyikap Tabir Ilahi–sehingga menjadilah seorang Muslim yang berakhlak mulia, sebagaimana digambarkan dalam satu riwayat bahwa: Ma’rifat adalah modalnya. Keadilan adalah tumpuan ajarannya. Pengendalian diri dasar aktivitasnya. Kasih asas pergaulannya. Kerinduan kepada Ilahi kendaraannya. Zikir pelipur laranya. Kepuasan setelah usaha maksimal adalah harta simpanannya. Kesadaran akan kelemahan di hadapan Allah adalah kebanggaannya. Sabar adalah busananya. Zuhud merupakan profesinya. Kepercayaan diri kekuatannya. Keprihatinan tunggangannya. Kebenaran andalannya. Ketaatan adalah kecintaannya. Jihad/perjuangan kesehariannya. Sedang buah matanya adalah ketika menghadap Allah SWT di dalam shalat.
Sumber:
Buku “yang hilang dari kita: Akhlak”
karya M. Quraish Shihab
Lembaga Amil Zakat dan Infaq Al-Ma'un Sadar Berbagi …