Breaking News

Buletin Al Ma’un Edisi XVII

Nabi SAW bersabda:

Makan, minum, dan berbusana serta bersedekahlah, tapi jangan berlebihan, jangan juga angkuh” (HR. Bukhari)

Ketika salah seorang datang menemui Nabi SAW dalam penampilan yang buruk, Nabi SAW bertanya kepadanya: “Apakah engkau mempunyai harta?” Dia menjawab memilikinya. Nabi bertanya lagi: “Harta apa?” “Segala macam harta telah dianugerahkan Allah kepadaku,” jawabnya. Maka Nabi SAW menasihatinya bahwa:

Apabila Allah menganugerahkan kepadamu harta, maka hendaklah terlihat tanda-tanda nikmat Allah dan anugerah-Nya itu kepadamu”(HR. An-Nisa’iy)

Seorang sahabat Nabi pernah bertanya kepada Nabi SAW: “Seseorang yang senang pakaiannya indah dan alas kakinya bagus, apakah itu termasuk keangkuhan?” Nabi SAW menjawab:

“Sesungguhnya Allah Maha-indah, menyukai keindahan. Keangkuhan adalah penolakan hak dan pelecehan terhadap hak manusia” (HR. Muslim).

Islam mengakui, bahkan mendorong dan mengharuskan, pemenuhan kebutuhan manusia serta merestui kecenderungan manusia pada keindahan, bukan hanya yang bersifat material, tetapi juga ruhaniah. Berlebihan dalam kedua aspek tersebut tidak direstui-Nya.

Berlebihan menjadikan manusia lupa daratan. Berlomba-lomba dalam kelebihan mengantar kamu lengah dan baru sadar ketika kamu tiba di kubur (QS. at-Takatsur [102]: 1-2). Ketika itu, manusia baru sadar bahwa semua yang dikumpulkan dan dibanggakan ditinggal di persada bumi ini. Ini bagi yang telah terkubur, sedang yang masih hidup, bisa jadi yang dibanggakan itulah yang meninggalkan pemiliknya. Memang, mengumpulkan materi tidak pernah memuaskan. Ia bagaikan eksem; semakin digaruk, semakin nyaman, tapi pada akhirnya ia akan menimbulkan borok dan infeksi. Karena itu, agama dan orang bijak berpesan dalam urusan materi bahwa:

Arahkanlah pandanganmu kepada yang berada di bawahmu dan jangan kamu memperhatikan orang yang berada di atasmu karena yang demikian itu lebih pantas agar kamu semua tidak mengganggap sepele nikmat Allah yang telah dikaruniakan kepadamu.”

Suatu ketika sahabat Nabi, Abu Ubaidah Ibn al-Jarrah, datang dari luar kota Madinah membawa harta yang banyak. Sekian banyak sahabat lainnya yang tengah Shalat Shubuh berjamaah dengan Nabi SAW yang enggan pulang mengharap kiranya Nabi membagikan kepada mereka sebagian dari harta itu. Nabi yang menyadari hal tersebut tersenyum sambil bersabda: “Aku menduga kalian telah mendengar kedatangan Abu Ubaidah dari Bahrain.” Mereka berkata: “Benar, wahai Rasul.” Nabi SAW bersabda: “Bergembiralah dan harapkanlah apa yang menggembirakan kalian.” Lalu beliau melanjutkan:

“Demi Allah, bukanlah kemiskinan yang kutakuti atas kalian, tetapi aku takut terbentangnya (kemegahan) dunia atas kalian, sebagaimana pernah terbentang pada umat-umat yang lalu, yang menjadikan kalian bersaing memperebutkannya, sebagaimana mereka bersaing sehingga kalian dibinasakan, sebagaimana mereka binasa.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Karena itu, hidup sederhanalah dan kurangi rasa kebutuhan dan ketergantungan pada gemerlapan duniawi, niscaya Anda tidak akan memperebutkannya dan tidak juga merasa terganggu karena tidak memilikinya. Memang, kesederhanaan membuat segala sesuatu menjadi menarik. Ia adalah lambang kesempurnaan walau sering kali manusia tidak menyadarinya:

Beruntunglah siapa yang memeluk Islam dan hidup dalam keadaan berkecukupan serta dianugerahi qana’ah/puas hati atas apa yang dianugerahkan Allah kepadanya.” (HR. Muslim, at-Tirmidzy, dll.)

Demikian, wa Allah A’lam.

Disarikan dari:
Buku “yang hilang dari kita: Akhlak”
karya M. Quraish Shihab

Comments

comments

Pages ( 2 of 3 ): « Previous1 2 3Next »