Masyarakat Islam di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah punya tradisi yang unik: mereka tidak memakan daging sapi sampai saat ini karena ingin menghormati para tetagganya yang beragama Hindu. Tradisi itu merupakan warisan yang telah turun temurun dilestarikan Sunan Kudus. Sunan Kudus sangat menghormati tradisi dan budaya masyarakat Hindu yang menganggap sapi sebagai hewan yang suci. Maka, sampai saat ini, sebagai bagian dari menjaga tradisi dan menghargai keragaman dengan semangat toleransi, masyarakat Kudus tidak pernah memakan daging sapi.
Banyak contoh lain dari –meminjam istilah Gus Dur– keberhasilan pribumisasi Islam di bumi nusantara ini. Sultan Agung sebagai raja tanah Jawa ketika menggabungkan kalender hijriyah ke dalam kalender Jawa adalah contoh kreasi yang berhasil memberi pemahaman kultur Islam pada rakyat di Jawa. Islam menyebar di bumi nusantara ini berlangsung secara gradual: pelan tetapi berjalan dengan pasti. Tahap pertama, biasanya hanya berupa konversi menjadi muslim nominal (Islam KTP) terlebih dahulu. Baru kemudian pada tahap kedua, mulailah proses pematangan pemahaman Islam (ortodoksi) setelah memperoleh dukungan infrastruktur berupa budaya lokal. Di sinilah letak kecerdasan para wali dan pengajar Islam masa-masa awal yang memahami sosiologi dakwah dengan memperhatikan karakter dan kultur masyarakat setempat.
Contoh lain, meskipun Kesultanan Demak atau Keraton Mataram amat berperan dalam penyebaran Islam, tetapi tidak serta-merta langsung memberlakukan syari’at Islam pada seluruh penduduknya. Mengapa? Cara gradual mengandaikan, ajaran Islam lebih baik tumbuh sebagai bentuk kesadaran masyarakat (bottom-up), daripada dipaksakan melalui peraturan-peraturan dari atas (top-down). Dengan cara gradual dan akulturatif ini, Islam diterima sebagian besar penduduk tidak dengan menciptakan masyarakat nusantara yang terbelah. Nyaris tidak ada konflik. Islam tersebar dengan sejuk dan damai.
Tarik-menarik secara kreatif antara proses akulturasi dan ortodoksi ini, bukan tanpa mengalami pasang-surut dan macam-macam tantangan. Akan tetapi, para penyebar Islam tidak kehilangan cara yang kreatif. Ketika jaringan niaga dan dakwah maritim menghadapi jalan buntu karena pembatasan dan penghancuran oleh penjajah, pribumisasi Islam digantikan oleh para kiai pesantren yang umumnya bergelut dengan masyarakat tani. Para kiai ini merupakan pribadi-pribadi yang matang dan dididik melalui pendidikan intensif, baik yang berkaitan dengan kualitas ilmu agama ataupun yang berkaitan dengan pendalaman spiritual (tasawuf). Kelak, dunia spiritual di pesantren dan masyarakat pertanian lebih dikenal dengan sebutan tarekat dari pada istilah tasawuf.
Proses ortodoksi melalui jaringan pesantren dan tarekat ini berjalan intensif dan tidak mampu dihadang oleh penjajah, sehingga perannya sangat luar biasa untuk keberhasilan Islamisasi berlatar belakang budaya di nusantara ini.
Dengan segala pasang surut dan berbagai tantangannya, Islam berbasis kultur setempat itu kemudian bermetamorfosis (menjelma) menjadi bagian penting sebagai penyumbang paham keagamaan dan kebangsaan. Kita mengenal mars lagu “hubbul wathan minal iman” yang populer di masyarakat. Hal tersebut adalah indikasi kuat bahwa paham keagamaan yang berlatar belakang infrastruktur budaya telah nyata-nyata menjadi jembatan berseminya paham kebangsaan.
Kesetiaan menjaga dan sekaligus terus berupaya mengembangkan penemuan-penemuan yang inovatif adalah bagian penting dewasa ini. Sesuai dengan prinsip al–muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah, “Menjaga tradisi dan mengembangkan inovasi”. [Tim Redaksi]
Disarikan dari Pidato Kebudayaan Ketua Umum PBNU
Prof. Dr. K H. Said Aqil Siroj, MA
Pada peringatan Harlah NU ke-91
Lembaga Amil Zakat dan Infaq Al-Ma'un Sadar Berbagi …