Konflik geopolitik yang sangat berdarah di daerah-daerah kaya sumber daya alam khususnya minyak dan gas (Oil & Gas Blood) atau kutukan sumber daya (Resource Curse), bukan fenomena khas Myanmar dan bukan hanya menimpa etnis Rohingya, tapi juga terjadi di belahan bumi yang lain. Ini sengaja dilakukan untuk menutup operasi apropriasi kapital dan sumber daya secara menjijikkan. Operator-operator di lapangan membungkus dan/atau menutupnya dengan konflik antaretnis, antaragama, antarkelompok masyarakat dengan tujuan agar akar maupun persoalan sebenarnya menjadi kabur dan tersamar.
Saudara-saudara kita dari etnis Rohingya yang tinggal di daerah Arakan–Rakhine memang menjadi sasaran khusus dengan operasi terselubung (covered operation) apropriasi kapital dan sumber daya. Semua itu dilakukan secara biadab dan terencana menyasar praktik dan simbol agama serta membenturkan antarumat beragama termasuk di dalamnya dengan melakukan pembakaran Al-Qur’an, pemerkosaan di masjid, mempersenjatai dan memrovokasi warga Rakhine untuk juga melakukan persekusi terhadap minoritas Rohingya.
Aung San Suu Kyi
Tragedi kemanusiaan terhadap saudara-saudara kita etnis Rohingya dikarenakan situasi di mana pemeluk agama mayoritas yang sebenarnya moderat memilih diam dan bukan melawan saat terjadi persekusi terhadap kaum minoritas. Aung San Sukyi, sang penerima Nobel Perdamaian, hanyalah contoh paling memuakkan dari diamnya mayoritas.
Penulis menyadari, penyelesaian kasus Rohingya akan menjadi tidak mudah. Hal itu dikarenakan banyaknya pihak, negara dan korporasi yang berkepentingan terhadap penguasaan aset, kapital maupun sumber daya di daerah-daerah di mana saudara-saudara etnis Rohingya sebelumnya dan/atau saat ini tinggal.
Sangat sulit bagi ASEAN untuk bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik, mengingat Myanmar, Thailand, Malaysia, Singapura dan Brunei juga memiliki perusahaan nasional yang beroperasi dan berproduksi di daerah konflik geopolitik tersebut. Indonesia merupakan negara yang relatif lebih netral. Pemerintah Indonesia harus lebih aktif bersuara dan cenderung memimpin aliansi mitra dialog dan diplomasi hak asasi manusia (Human Rights Diplomacy) mengingat posisi Indonesia yang cenderung netral dari kepentingan geopolitik di wilayah tersebut. Selain itu, Indonesia sebagai negara terbesar di kawasan dan juga secara tegas dalam konstitusi menghendaki agar penindasan di muka bumi harus dihapuskan.
Kemanusiaan
Penulis mengajak organisasi kepemudaan dan masyarakat di Indonesia untuk melakukan aksi solidaritas kemanusiaan dan misi bantuan kemanusiaan terhadap saudara-saudara kita etnis Rohingya. Cara lain bisa dengan melakukan secara lebih aktif lagi People-to-People Diplomacy di kawasan, tentu saja dengan kesadaran agar konflik geopolitik di Myanmar itu tidak diimpor ke negeri kita.
Penulis mengajak menshalat ghoibkan para korban yang tewas. Mengirimkan doa khusus dan juga membaca Hizb Nasr agar para korban yang tewas mendapat ketenangan, agar para korban terluka ringan maupun berat segera mendapatkan kesembuhan, agar para korban yang hilang bisa diketemukan dalam keadaan hidup dan sehat, agar para korban yang mengungsi mendapatkan keamanan dan perlindungan, dan agar perdamaian abadi bisa kembali hadir di Negeri Myanmar, sehingga para pengungsi dapat pulang ke tanah mereka dengan jaminan keamanan dan perlindungan.
Akhirnya, penulis mengutuk keras tragedi kemanusian terhadap saudara-saudara etnis Rohingya di Myanmar sekaligus mengajak kita semua untuk menyatukan hati, tekad, semangat dan usaha. Semua satu tujuan untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial serta tentu saja tidak memilih diam terhadap setiap ujaran kebencian, permusuhan dan persekusi terhadap minoritas.
Dr. Mahmud Syaltout
Lembaga Amil Zakat dan Infaq Al-Ma'un Sadar Berbagi …