Breaking News

Buletin Al Ma’un Edisi XXXVI

Lalu, apa yang menjadi fokus utama pandangan Al-Quran terhadap Nabi saw? Jawabnya adalah khuluq-nya alias akhlaknya, seperti pada ayat di atas.

Apa arti akhlak? Imam Ghazali menerangkan bahwa akhlak adalah wajah batiniah manusia. la bisa indah dan bisa juga buruk. Akhlak yang baik adalah akhlak yang mampu meletakkan ‘Aqliyyah (Kejernihan fikir), Ghadhabiyyah (Emosi/Kemarahan), Syah-waniyyah (Keinginan-keinginan Syahwat) dan Wahmiyyah (Angan-angan) secara proporsional dalam jiwa manusia, serta mampu meletakkan dan menggunakan secara adil dalam dirinya. Manusia yang berakhlak baik adalah orang yang tidak berlaku ifrath alias eksesif atau melampaui batas dalam menggunakan empat hal di atas, dan juga tidak bersifat tafrith atau menyia-nyiakan/mengabaikannya secara total. la akan sangat adil dan proporsional di dalam menggunakan keempat anugerah Illahi itu.

Orang yang menyandang sifat al-Khuluqul hasan (memiliki akhlak yang baik), di kedalaman jiwanya sudah pasti memantulkan suatu bentuk yang sangat indah secara lahiriah di dalam segala aspek kehidupannya sehari-hari; yang -seperti kata sebuah riwayat- dari pancaran wajahnya akan memantul sebuah energi yang akan mengingatkan orang kepada Allah swt. Sedang untaian kata-katanya akan menimbulkan aura menambahkan ilmu pada setiap orang yang mendengarnya. Dari akhlak lahiriahnya bisa menyadarkan orang dari kelalaiannya. Akhlak seperti inilah yang diuswahkan Rasulullah saw:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswah hasanah (suri tauladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (Q.S Al-Ahzab : 21)

Itulah yang menjadi misi utama beliau saw, seperti dalam sabda beliau: “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.

Kisah Nabi Memakan Anggur Hadiah Sang Miskin
Datang seorang miskin kepada Rasulullah saw dengan membawa hadiah semangkuk buah anggur. Rasul pun menerima hadiah itu dan mulai memakannya. Biasanya, Rasulullah selalu memberi makanan kepada para sahabat jika ada yang memberi sedekah dan beliau sendiri tidak ikut makan. Sementara jika ada yang memberi hadiah, Rasul juga memberi kepada para sahabat dan beliau pun ikut makan.

Namun kali ini berbeda, beliau memakan buah pertama lalu tersenyum kepada orang tersebut. Beliau mengambil buah kedua lalu tersenyum kembali. Orang yang memberi anggur itu serasa terbang bahagia karena melihat Rasulullah menyukai hadiahnya. Sementara para sahabat melihat beliau dengan penuh rasa heran. Tak biasanya Rasulullah makan sendirian.

Satu per satu anggur itu diambil oleh Rasulullah dengan selalu tersenyum, hingga semangkuk anggur itu habis tak bersisa. Para sahabat semakin heran dan orang miskin itu pulang dengan hati penuh bahagia.

Lalu seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak mengajak kami ikut makan bersamamu?”

Rasul pun tersenyum dan menjawab, “Kalian telah melihat bagaimana wajah bahagia orang itu dengan memberiku semangkuk anggur. Dan ketika aku memakan anggur itu, kutemukan rasanya masam. Dan aku takut jika mengajak kalian ikut makan denganku, akan ada yang menunjukkan sesuatu yang tidak enak hingga merusak kebahagiaan orang itu.”

Sungguh besar kepeduliaan Rasulullah saw dalam menjaga perasaan orang lain. Sungguh begitu mulia akhlak beliau, sang pemilik khuluqin adzim

***

Dengan momentum Maulid Nabi saw, mari kita mencontoh akhlak beliau baginda Rasulillah Muhammad saw dalam berkehidupan sehari-hari, baik akhlak kepada sang khaliq, akhlak kepada sesama, dan akhlak kepada alam semesta. Mudah-mudahan kita semua berada dalam kehidupan yang akhlaqi, selalu memperoleh pancaran nur akhlak manusia mulia Baginda Rasulillah Muhammad saw.

Comments

comments

Pages ( 2 of 2 ): « Previous1 2