Breaking News

Buletin Al Ma’un Edisi VII

Kriteria Guru

Imam Al-Ghazali (450-505 H / 1058-1111 M) dalam salah satu kitab maha karyanya yaitu Ihya’ Ulumiddin -menghidupkan ilmu agama- (Juz I hal. 60-61) menjelaskan beberapa kriteria guru yang memberi petunjuk kepada para muridnya, diantaranya:

“الشَّفَقَةُ عَلَى الْمُتَعَلِّمِيْنَ وَأَنْ يَجْرِيَهُمْ مَجْرَى بَنِيْهِ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ مِثْلُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ

“Guru harus memiliki kasing sayang kepada murid dan memperlakukan mereka seperti anak sendiri.” Sebagaimana sabda Nabi SAW: “Kedudukanku terhadap kalian adalah sama seperti orang tua terhadap anaknya” (HR. Abu Dawud)

أَنْ يَقْتَدِىَ بِصَاحِبِ الشَّرْعِ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَامُهُ فَلَا يَطْلُبُ عَلَى إِفَادَةِ الْعِلْمِ أَجْراً وَلَا يَقْصِدَ بِهِ جَزَاءً وَلَا شُكْراً بَلْ يُعَلِّمُ لِوَجْهِ اللهِ تَعَالَى وَطَلَباً لِلتَّقَرُّبِ إِلَيْهِ

“Guru meneladani Rasulullah, mengajarkan ilmunya bukan untuk mencari bayaran, namun mengajar karena mencari ridla Allah dan mendekatkan diri kepada Allah”

أَنْ لَا يَدَعَ مِنْ نُصْحِ الْمُتَعَلِّمِ شَيْئًا

“Selalu memberi nasehat kepada murid”

وَهِيَ مِنْ دَقَائِقِ صِنَاعَةِ التَّعْلِيْمِ أَنْ يَزْجَرَ الْمُتَعَلِّمَ عَنْ سُوْءِ الْأَخْلاَقِ بِطَرِيْقِ التَّعْرِيْضِ مَا أَمْكَنَ وَلَا يُصَرِّحَ . الرَّحْمَةِ لَا بِطَرِيْقِ التَّوْبِيْخِ

“Berikutnya adalah naluri yang hanya dimiliki oleh guru, yaitu menghentikan keburukan perilaku murid dengan bahasa yang halus dan tidak secara panjang lebar. Serta dengan kasih sayang dan tidak mempermalukan”

أنَّ الْمُتَكَفِّلَ بِبَعْضِ الْعُلُوْمِ يَنْبَغِي أَنْ لَا يُقَبِّحَ فِي نَفْسِ الْمُتَعَلِّمِ الْعُلُوْمَ الَّتِي وَرَاءَهُ

“Pengajar hendaknya tidak mengajarkan untuk mengolok-olok (menjelekkan) ilmu lain di luar bidang gurunya di depan muridnya”

أَنْ يَقْتَصِرَ بِالْمُتَعَلِّمِ عَلَى قَدْرِ فَهْمِهِ فَلَا يُلْقِى إِلَيْهِ مَا لَا يَبْلُغُهُ عَقْلُهُ فَيَنْفَرُهُ أَوْ يَخْبَطَ عَلَيْهِ عَقْلُهُ اقْتِدَاءً فِي ذَلِكَ بِسَيِّدِ الْبَشَرِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيْثُ قَالَ ” نَحْنُ مَعَاشِرَ الْأَنْبِيَاءِ أُمِرْنَا أَنْ نُنَزِّلَ النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ وَنُكَلِّمَهُمْ عَلَى قَدْرِ عُقُوْلِهِمْ

“Hanya mengajarkan ilmu yang sesuai dengan kemampuan pemahamannya, maka tidak boleh mengajarkan ilmu yang tidak bisa dimengerti bagi murid, sebab dia akan menghindar atau semangatnya akan menurun.” Hal ini sesuai dengan teladan Nabi junjungan umat manusia, dalam sabdanya: “Kami para Nabi diperintah untuk menempatkan umat sesuai pada tempatnya dan mengajarkan mereka sesuai dengan pemahamannya” (Al-Hafidz Al-Iraqi berkata: kami meriwayatkannya dalam sebuah kitab dari hadits Abu Bakar bin Syikhir dari Ibnu Umar, lebih ringkas)

Pada intinya dalam kriteria diatas adalah keikhlasan seorang guru atau ustadz dalam mengajar kepada anak didiknya dengan kasih sayang, nasehat, dan tidak mengajarkan keburukan baik dengan ilmu lain atau di luar kemampuannya. Maka kita perlu memperbaiki diri jika ada seorang guru maupun ustadz yang mengajar dengan kebencian dan menuduh sesama Muslim dengan tuduhan ahli bidah, syirik, kafir dan sebagainya.

Dengan kita mendapatkan guru yang sesuai dengan kriterianya, Insyaa Allah kita akan memperoleh ilmu banyak, berkah, yang berguna bagi kita dan orang lain. Aamiin.

Ust. Ma’ruf Khozin

Comments

comments

Pages ( 2 of 3 ): « Previous1 2 3Next »