Breaking News

Buletin Al Ma’un Edisi X

Oleh sebab itulah, setan dan hawa nafsu menyuruh manusia untuk membuang keinginan bertobat. Hawa nafsu menyuruh demikian agar ia bisa mereguk kesenangan dan kenikmatan duniawi. Adapun setan adalah musuh manusia, sehingga wajarlah kalau ia selalu membisikkan dosa dan permusuhan demi mendapatkan teman ketika disiksa dalam neraka.

Cara melawan bisikan dalam dada ini adalah membandingkan kenikmatan duniawi dengan kenikmatan ukhrawi. Dengan begitu, orang akan sadar bahwa kenikmatan duniawi yang terlewatkan sejatinya tidak seberapa jika dibandingkan dengan kenikmatan yang bisa diperoleh di akhirat, terutama nikmat menatap wajah Tuhan Yang Maha Mulia.

Orang cerdas tentu takkan pernah mengutamakan sesuatu yang sedikit lagi fana di atas sesuatu yang melimpah lagi abadi. Setelah terbiasa membandingkan kedua kenikmatan tersebut, hamba pasti lebih menghargai kenikmatan agung yang kekal daripada kepuasan sesaat yang rendah. Ketika melihat beratnya ibadah di dunia, bandingkanlah dengan beratnya azab akhirat yang disertai dengan murka Tuhan Sang Pencipta.

Dengan begitu, hamba pasti rela menjalani kesulitan sesaat agar terhindar dari penderitaan luar biasa yang abadi. Orang cerdas pasti memilih penderitaan sejenak daripada penderitaan selamanya. Ia akan mengintrospeksi diri dan berkata kepada jiwanya:

“Bedebah kau jiwa! Engkau gelisah saat tersengat bayangan akhirat yang mengerikan, tetapi tidak resah dengan ancaman akhirat yang menghanguskan segenap jiwa dan ragamu?! Engkau keberatan untuk membuang bayangan kenikmatan duniawi yang semu dan hina, tetapi tidak keberatan untuk menyingkirkan bayangan kenikmatan akhirat yang hakiki?! Apakah kau ingin menukar sesuatu yang mulia dengan sesuatu yang nista?!” “Dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual diri demi sihir andai saja mereka tahu.”

Kalau kita membiasakan diri memikirkan perkara akhirat, niscaya Allah mengganti hasrat bermaksiat dengan indahnya ibadah dan harapan akan pahala di akhirat.

Orang dapat konsisten menghadirkan bayangan mengerikan Hari Kiamat jika ia berusaha sekuat tenaga membayangkannya. Ini baru bisa dicapai jika hati kosong dan hanya memikirkan peristiwa itu berikut segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Di samping itu, anggota tubuh juga tidak boleh sibuk dengan sesuatu yang menghapus pikiran tentang Hari Kiamat.

Rangkaian kejadian Hari Kiamat harus selalu diingat hingga kalbu gemetar dan takut, lalu menggerakkan untuk menyiapkan diri guna menghadapi hari itu. Untuk membuat masakan dalam panci cepat matang, umpamanya, kayu bakar di bawahnya harus banyak. Hati pun cepat matang dan membuang nafsu syahwatnya bila telah dirasuki rasa takut akan siksa. Ketika kita berusaha menakut-nakuti kalbu, setan pasti berusaha merusak usaha itu dengan menanamkan kepercayaan bahwa kita telah sukses melakukan itu berkat tekad dan kecermatan kita dalam menata kalbu. Kalau kita menerima bisikan ini, usaha kita pasti sia-sia. Kalau kita mengacuhkannya, rasa takut kalbu benar-benar berguna.

Rasa takut yang bermanfaat ini akan berpadu dengan taufik dan membuat kita terhindar dari dosa serta giat beribadah kepada Tuhan Sang Pencipta langit dan bumi.

Seandainya cahaya makrifat menyinari seseorang, segenap hasrat dan tekadnya terhimpun tanpa harus membiasakan diri memikirkan akhirat. Sayangnya, zaman sekarang, sulit menemukan orang seperti itu.

Hatiku dipenuhi segudang ambisi.

Yang segera sirna setelah mata hatiku melihat-Mu.

Aku meninggalkan dunia dan agama manusia demi menyibukkan diri dalam mengingat-Mu.

Wahai agama dan duniaku, orang yang kudengki berubah iri kepadaku.

Aku menjadi tuan di dunia setelah menjadikan-Mu sebagai Tuhan.

Kebiasaan memikirkan akhirat dan memusatkan tekad yang meningkatkan ketakwaan dan ibadah kepada Allah SWT bisa dicermati melalui dua ilustrasi berikut.

Baju kotor yang dipenuhi noda hanya bisa dibersihkan dengan dicuci berulang-ulang. Demikian juga kalbu yang dipenuhi kotoran syahwat dan noda perbuatan haram. Ia hanya bisa dibersihkan dengan senantiasa mengingat akhirat, sehingga ia bertobat dan meninggalkan perbuatan nista. Penyakit yang menahun hanya bisa disembuhkan dengan terapi dan pengobatan berkesinambungan. Demikian pula kalbu berpenyakit. Ia hanya bisa diobati dengan terus-menerus membayangkan siksa yang Allah SWT janjikan kepada para pendosa.

KH. M. Luqman Hakim, Ph.D.

Comments

comments

Pages ( 2 of 3 ): « Previous1 2 3Next »