Kita patut bersyukur dengan perkembangan kehidupan beragama di tanah air kita dewasa ini. Begitu semarak. Hal ini tampak dari sejak ungkapan stiker-stiker yang ditempel di kaca-kaca mobil, meledaknya jamaah di masjid-masjid, semakin suburnya perngajian-pengajian dan diskusi-diskusi keislaman, hingga fenomena menjamurnya berbagai jenis media dakwah melalui dunia maya atau sosial media. Kecintaan dan ghairah umat Islam terhadap agamanya dewasa ini tak diragukan lagi, luar biasa adanya.
Namun, di samping itu, ada hal-hal yang agaknya perlu mendapat perhatian kita justru karena perkembangan yang mensyukurkan itu. Soalnya ya itu tadi. Seperti juga suami terhadap istri, orang Islam ber-ghairah terhadap agamanya pun macam-macam sikapnya. Dan justru karena kaitannya dengan agama, banyak yang menganggap–seperti dinyatakan oleh lisan al-hal mereka–bahwa semua sikap yang didorong oleh ghairah adalah terpuji. Mereka lupa atau tidak menyadari bahwa ghairah terhadap agama pun, bila terlepas dari kontrol akal sehat, bisa membahayakan agama yang justru di-ghairah-i atau membahayakan diri sendiri.
Seperti disinggung di atas, ghairah–sebagaimana biangnya, cinta–bisa lebih dekat dengan nafsu, bahkan bila dikendarainya, dan bisa jauh dari akal sehat atau bahkan melawannya. Oleh karenanya, sikap yang ditampilkan atau diakibatkan oleh ghairah, meski bisa bermacam-macam, umumnya cenderung berlebihan dan sering kali justru tidak terpuji dilihat dari kacamata agama yang di-ghairah-i itu sendiri, tergantung pada besar-kecilnya pengaruh atau jauh-dekatnya nafsu dan akal sehat.
Dalam kehidupan keberagamaan kita, kita dapat melihat banyak contoh mengenai kecenderungan sikap berlebihan yang bermula dari dorongan ghairah yang tidak terkontrol itu, mulai dari yang berakibat ringat hingga yang berat.
Contoh–yang kita tak tahu akan berhenti jadi contoh atau akan permanen menjadi contoh ghairah yang tidak sehat di dalam kehidupan keberagamaan kita–perselisihan di antara kita sendiri selama ini. Perselisihan yang tidak sekedar berbeda pendapat, tapi sudah sangat dicemari nafsu. Perselisihan yang sedikit pun sudah tidak mirip perselisihan antarsaudara. Masing-masing pihak yang berselisih boleh jadi betul semula didorong oleh ghairah-nya yang besar terhadap agama, Allah SWT, Rasulullah SAW, umat, atau hal-hal mulia lainnya. Namun, tak lama kemudian, akal sehat menjauh dan nafsu pun mendekat, bahkan mengendarainya. Terkadang pihak yang saling berselisih pendapat tidak cukup dengan minta penjelasan, bicara baik-baik laiknya sesaudara. Bahkan agaknya pintu silaturahmi pun telah mereka tutup. Mereka seperti lupa ajaran agama tentang silaturahmi, tentang tawashau bil haqq wash-shabr, dakwah bilhikmah, mau’izhah hasanah, bahkan tentang jidal billati hiya ahsan.
Sungguh merupakan “skandal” apabila mereka yang sudah terlanjur dicitrakan atau mencitrakan diri sebagai pemimpin atau tokoh Islam panutan kemudian sengaja–apalagi kalau senantiasa–tampil berlebihan bahkan bertolak belakang dengan ajaran Islam itu sendiri, kendatipun hal itu didorong oleh ghairah yang besar. Jika hal itu muncul dari orang awam, masih bisa dimengerti, tapi bila muncul dari kalangan intelektual, sungguh musykil bin ajaib. Sedangkan Islam sendiri, seperti tampak dalam banyak nash-nya, sangat menganjurkan sikap í’tidal, qisth, atau jejeg, tidak berlebihan. Suatu sikap yang memerlukan kontrol akal sehat. Untuk itu, perlu kiranya akal sehat senantianya kita “dekatkan” kepada ghairah kita untuk menjaga agar nafsu tidak justru merusakkannya dan pada gilirannya merusakkan–paling tidak citra–agama yang kita ghairah-i itu sendiri. Ghairah yang sudah dikendarai nafsu puncaknya malah bisa mendorong pemiliknya, tanpa sadar, bersikap menyekutukan Tuhan dengan dirinya. Na’udzu billah. Menganggap diri misalnya, berhak menetapkan kebenaran mutlak, menetapkan halal-haram dan kafir-mukmin, seperti Allah dan Rasul-Nya.
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penegak-penegak kebenaran karena Allah, saksi-saksi yang adil, dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum (menurut kebanyakan mufasir, “kaum di sini artinya malah orang-orang kafir) mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Maidah [5]:8). [Tim Redaksi]
Disarikan dari buku “Salah Ritual Saleh Sosial” karya Gus Mus
Lembaga Amil Zakat dan Infaq Al-Ma'un Sadar Berbagi …