Breaking News

Buletin Al Ma’un Edisi XVIII

KH. Muhammad Adlan Aly

Peduli Pada Pendidikan Perempuan

Muhammad Adlan Aly

Mendengar nama KH. Adlan Aly terbayang akan sesosok bayangan yang berjalanan menunduk di pinggiran jalan raya, antara Cukir dan Pondok Pesantren Tebuireng. Setiap orang tahu, karena ‘ritual’ menyusuri jalan raya Cukir-Tebuireng itu dilakukan setiap hari, setiap waktu beliau akan berjama’ah ke Masjid Tebuireng. Beliau sangat tekun berjama’ah ke masjid.

Beliau dikenal dengan nama Kiai Delan, yang pada masa muda mempunyai panggilan akrab Gus Delan. Nama lengkap beliau adalah Muhammad Adlan, lahir pada tanggal 3 Juni 1900 di Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Sewaktu kecil KH. Adlan Aly belajar ilmu agama Islam kepada kakak dari ibunya, yaitu KH. Faqih di Pesantren Maskumambang. Ketika berusia 14 tahun, KH. Adlan Aly belajar menghafal al-Qur’an pada KH. Munawir, Kauman, Sidayu, Gresik. Pada usia 18 tahun, beliau mengikuti kakaknya KH. Ma’shum Aly belajar di Pesantren Tebuireng, Jombang. Setelah KH. Ma’shum Aly mendirikan pesantren di Seblak, KH. Adlan Aly ikut pindah ke Seblak mengikuti kakaknya, tetapi tetap menuntut ilmu di Pesantren Tebuireng, Jombang.

Setelah beberapa tahun di Seblak, KH. Adlan Aly diminta kakaknya, M. Mahbub Aly, untuk membantu mengurus toko kitab di Cukir. Selama di Cukir bersama-sama KH. Abdul Karis Gresik dan H. Sufri, beliau dipanggil Hadratussyeikh KH. Hasyim Asy’ari diminta untuk membentuk NU di Diwek tahun 1926.

Pada tahun 1945, setelah Indonesia merdeka, tentara Belanda bermaksud menjajah kembali dengan membonceng tentara sekutu, pada saat itu KH. Adlan Aly aktif di barisan Sabilillah dan ikut berperang digaris depan menghadapi tentara sekutu di daerah Krian untuk membendung agar tidak bisa keluar dari Surabaya.

Mendirikan Madrasah Mu’allimat

Setelah merdeka tahun 1945, KH. Adlan Aly memikirkan masalah pendidikan, setelah mengetahui banyak anak-anak putri tamatan Madrasah Ibtidaiyah tidak dapat melanjutkan belajar ke jenjang lebih tinggi, khususnya di daerah Cukir, karena masalah biaya dan pada saat itu belum ada sekolah setingkat SMP apalagi SMA.

Setelah mempertimbangkan pentingnya pendidikan untuk kader-kader putri dan menampungnya dari beberapa Madrasah Ibtidaiyah sekitar Cukir, maka untuk memenuhi keperluan tersebut KH. Adlan Aly dan kerabatnya mendirikan Madrasah Mu’allimat Cukir yang waktu itu menempati gedung tembakau, dan untuk pertama kalinya menerima 20 murid.

Dengan bersenjatakan semangat yang kuat dan tekad yang membaja KH. Adlan Aly dengan dibantu guru-guru melakukan tugas mengajar dengan penuh ketekunan dan tanggung jawab. Tersebutlah nama-nama guru perintis pada saat itu antara lain KH. Syansuri Badawi (Tebuireng), H. Abdul Manan (Banyuarang), Kholil Mustofa (Tebuireng), dan Kiai Abu Hasan (Kayangan).

Kurang lebih berjalan dua tahun, pesantren yang diberi nama Pondok Putri Wali Songo itu mulai terdengar luas di masyarakat. Sejak saat itu berdatanganlah siswi-siswi dari luar daerah untuk mendaftar di pondok tersebut. Pesantren khusus perempuan yang masih langka itu mengalami pertumbuhannya seiring waktu hingga mencapai kemajuannya yang masih tampak hingga saat ini. Patut dicatat saat ini unit-unit pendidikan yang dikelola Perguruan Putri Mu’allimat mengalami kemajuan, hingga meliputi Taman Kanak-kanak, Madrasah Ibtidaiyah, Persiapan Mu’allimat, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah.

Kepedulian KH. Adlan Aly terhadap pendidikan perempuan dalam hal ini remaja putri telah menginspirasi terhadap kesetaraan hak-hak dalam memperolah pendidikan bagi perempuan.

Pada tahun 1990 pendiri Madrasah Perguruan Putri Mu’allimat Cukir, KH. Adlan Aly, berpulang ke Rahmatullah pada hari Sabtu, 6 Oktober 1990 bertepatan 17 Rabi’ul Awwal 1441 H. [Tim Redaksi]

Disarikan dari buku “Menapak Jejak Mengenal Watak Kehidupan Ringkas 29 Tokoh NU”

Comments

comments

Pages ( 3 of 3 ): « Previous12 3