Pada bulan yang penuh ampunan tersebut, kesempatan terbuka begitu luas bagi kita untuk melihat lebih jeli kepada diri kita sendiri. Kita dapat melihat diri kita seutuh mungkin sebagai manusia. Hal ini dirasa penting, karena satu dan lain hal dapat kita manfaatkan untuk menguji sejauh mana kita mengenali diri kita sendiri. Tanpa mengenal diri sendiri, bagaimana kita dapat mengenal Allah Sang Pencipta, sesuatu yang menjadi dambaan puncak hamba mukmin. Man ‘arafa nafsahu ‘arafa Rabbahu. Siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya.
Kita, manusia, diciptakan oleh Allah–di antara cipataan-cipataan-Nya yang lain–sebagai makhluk yang istimewa dan terhormat. Di samping indra, nafsu, dan angkara, kita dibedakan dari segenap hewan dan binatang buas dengan dianugerahi kelengkapan yang luar biasa mulia: akal pikiran dan hati nurani.
Imam Al-Ghazali, ilmuwan dan sufi kenamaan yang hidup sekitar abad kesebelas Masehi, mengibaratkan diri manusia sebagai kerajaan dengan hati nurani sebagai rajanya dan akal pikiran sebagai perdana menterinya. Sementara yang lain-lain, seperti indra dan anggota-anggota badan, merupakan aparat-aparat pembantu yang seharusnya tunduk dan patuh kepada sang raja.
Sang raja sendiri, dalam hal ini hati nurani, sudah selaiknya selalu melakukan musyawarah dengan perdana menterinya. Sebaliknya, perdana menteri yang baik tidak akan bertindak sendiri sejauh tindakannya dinilai melampui wilayah kewenangannya dan meninggalkan batas loyalitasnya terhadap raja dan negaranya.
Kejayaan atau kehancuran kerajaan diri ini tergantung sejauh mana fungsi dan peranan penguasa serta aparat-aparatnya terjaga secara proporsional dalam tananan yang harmonis. Kehancuran tidak bisa dielakkan manakala tatanan itu menjadi salang-surup (saling bersilangan atau saling tabrak) fungsi dan peranan terputar-balikkan atau tidak berjalan sebagaimana mestinya. Misalnya, sang raja yang mestinya paling berwenang dan ditunduki, justru menjadi pesuruh atau bahkan dianggap tidak ada. Perdana menteri yang mestinya mengatur, malah selalu diatur bahkan menyerah apa kata aparat bawahannya. Undang-undang dan peraturan yang mestinya menjadi pedoman dan penyelaras kehidupan semuanya, hanya merupakan tulisan-tulisan tak berbunyi yang diabaikan atau bahkan dilecehkan.
Bercermin kepada perumpamaan yang dibuat oleh Imam Al-Ghazali itu, kita bisa melihat diri kita sendiri dalam kaitannya dengan mekanisme peran dan hubungan perangkat kelengkapan diri yang dianugerahkan Allah kepada kita sebagai manusia yang hamba dan sekaligus khalifah-Nya di bumi ini. Ini adalah penilaian yang sebenarnya hanya dapat dilakukan oleh kejujuran diri kita sendiri. Logikanya, kitalah yang paling tahu tentang diri kita.
Apakah hati nurani yang menjadi raja diri kita telah berperan atau diperankan sebagai sebenar-benarnya raja yang menguasai pemerintahan, ataukah hanya sekedar boneka usang yang menjadi bahan tertawaan. Apakah akal pikiran, yang menjadi perdana menteri, mengetahui kedudukan dan wewenangnya, ataukah justru malah senantiasa menjadi budak para aparatnya macam si nafsu dan si angkara murka, misalnya.
Apakah undang-undang dan peraturan hidup, yang dalam hubungan pembicaraan ini adalah ketentuan-ketentuan agama, telah berperan cukup berwibawa dalam wilayah kita, ataukah hanya sekedar merupakan pepunden (sesembahan) yang dimulia-muliakan tapi bisu?
Nah, di kesyahduan malam-malam penuh ampunan dalam situasi tirakat agung Ramadhan yang sebentar lagi akan sama-sama kita songsong, marilah kita tuntaskan dialog jujur dengan diri kita sendiri bagi pengenalan yang lebih jati. Pengenalan diri yang mengantarkan kepada pengenalan ilahiyah. Makrifat Allah! Semoga Allah menolong kita. [Tim Redaksi]
Disarikan dari buku “Saleh Ritual Saleh Sosial” karya Gus Mus
Lembaga Amil Zakat dan Infaq Al-Ma'un Sadar Berbagi …