Breaking News

Buletin Al Ma’un Edisi XXIV

Imam Nawawi Ad-Dimasyqi [3] punya penjelasan lain. Sebagaimana dikutip Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Baari bi Syarh ‘l-Bukhari, beliau menjelaskan bahwa ayat ini memang secara eksplisit menunjukkan bahwa amal kebaikan menjadi sebab seseorang masuk ke surga. Namun demikian, Allah semata yang memberikan hidayah untuk melakukan amal kebaikan tersebut. Diterimanya amal tersebut juga sepenuhnya bergantung kepada rahmat-Nya.

Senada dengan penjelasan Imam Nawawi Ad-Dimasyqi, Syaikh Ramadhan Al-Buthi memberikan analogi seorang ayah yang atas dasar cinta dan kasih sayang mendidik anaknya. Sang ayah berjanji akan memberikan hadiah bila si anak mau menyantuni fakir miskin. Kepada anaknya yang tak memiliki sepeser harta pun itu, sang ayah memberikan uang secara diam-diam. Mendapat rejeki dengan jalan tak disangka entah dari siapa serta termotivasi untuk mendapat hadiah dari sang ayah, si anak segera menyedekahkah uang tersebut kepada fakir miskin.

“Baik, kamu telah menyantuni fakir miskin. Kamu dapat hadiahnya,” kata sang ayah kepada si anak.

Analogi di atas menjelaskan dengan baik bahwa kebaikan apapun yang dilakukan seorang hamba sejatinya tidak pernah bisa terwujud sendiri. Ia lahir karena kemurahan dan kasih sayang Allah. Tak pantas dan tak masuk akal bila seorang hamba bertransaksi dengan Tuhan menggunakan amal kebaikannya. Seandainya seluruh hidup seorang hamba penuh dengan ibadah dan segala kebaikan, tanpa keburukan sedikit pun, semuanya jauh lebih kecil nilainya bila dibanding dengan secuil nikmat yang diberikan oleh Allah. Kalau begitu, masihkah kita berani mengandalkan amal kebaikan?

Lalu bagaimana kita mesti bersikap saat berbuat dosa dan kesalahan? Apakah tidak perlu menyesal dan bertobat? Bukankah sudah wajar bila akibat dosa dan kesalahan tersebut kita menjadi minder dan berkurang pengharapan kepada Allah? Setidaknya ada dua penjelasan yang dapat diberikan.

Pertama, harus dinyatakan bahwa tobat adalah syarat mutlak dari pengharapan. Tobat dengan sungguh-sungguh menunjukkan bahwa seseorang memiliki pengharapan kepada Allah. Kalau berputus harapan kepada Allah, tentu ia tidak akan bertobat. Ia akan terus mengulangi kesalahan-kesalahan. Demikian kurang lebih penjelasan dari Syaikh Ramadhan Al-Buthi.

Kedua, penjelasan dari Imam Asy-Syarqawi dalam Syarh Al-Hikam. Ketika seseorang telah mencapai derajat ma’rifat, ia tidak lagi membedakan ketaatan dan kesalahan. Seberapa banyak pun ketaatan yang ia lakukan tak akan menjadikan ia lebih pede (percaya diri) di hadapan Allah. Karena dalam pandangannya, ketaatan bukanlah prestasi pribadinya. Ketaatan tak akan terwujud tanpa kasih sayang Allah. Sebaliknya, seberapa pun banyak kesalahan yang ia tingggalkan tak akan mengurangi kekhawatirannya terhadap murka Allah. Hubungannya dengan Allah selalu diliputi kekhawatiran (khauf) dan pengharapan (raja’): kekhawatiran yang terus menumbuhkan pengharapan.

Laa haula wa laa quwwata illa bil-laah.

*)Ust. Muhammad Arif Widodo

Catatan:

[1] Imam Asy-Syarqawi, dalam Syarh Al-Hikam, membagi beberapa golongan manusia berdasarkan orientasi ibadah yang mereka lakukan: ‘ibad (hamba) yang beribadah demi mendapatkan surga atau menjauhkan diri dari neraka, murid yang beribadah dan bermujahadah agar memperoleh tingkatan spiritualitas yang tinggi berupa dibukanya tabir penghalang antara dirinya dan Allah, dan arif yang beribadah tanpa mengharap kompensasi apa pun dari Allah.

[2] Hadits nomor 6467.

[3] Imam Nawawi Ad-Dimasyqi (w. 676 H) yang berasal dari Damaskus, bukan Imam Nawawi Al-Bantani (w. 1314 H) yang berasal dari Banten. Dua Imam Nawawi ini sama-sama masyhur.

Pages ( 2 of 3 ): « Previous1 2 3Next »