KH. Abdul Wahid Hasyim
TOKOH MUDA DENGAN KIPRAH LUAR BIASA
Pada tanggal 22 Desember 1951, sebuah majalah yang terbit di ibu kota memuat artikel yang secara keras mengkritik para tokoh Islam. Judul artikel tersebut, “Umat Islam Indonesia Menunggu Ajalnya tetapi Pemimpin-Pemimpinnya Tidak Tahu” dengan penulisnya Ma’mum Bingung.
Dalam artikel tersebut, Ma’mum Bingung mengungkapkan keprihatinannya setiap kali ia menyaksikan kondisi umat Islam ketika itu. Sungguh aneh dimata Ma’mum Bingung. Banyak pemimpin Islam waktu itu yang secara verbal sering menggembar-gemborkan perjuangan Islam melalui berbagai jalur, terutama jalur politik, justru membiarkan umat Islam hidup dalam kualitas yang serba memprihatinkan. Menurutnya, banyak orang yang membawa bendera Islam untuk kepentingan yang sebenarnya bertolak belakang dengan semangat Islam.
Siapakah Ma’mun Bingung sang penulis artikel pedas tersebut? Ia tak lain adalah KH. Abdul Wahid Hasyim. Nama Ma’mum Bingung merupakan salah satu saja dari sekian banyak nama samaran yang dipakai beliau ketika menulis artikel.
***
Dipertemukan dengan Syaikhona Kholil
Abdul Wahid adalah putra kelima pasangan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dengan Nyai Nafiqah binti K. Ilyas. Anak laki-laki pertama dari 10 orang bersaudara ini lahir pada hari Jum’at Legi, 5 Rabiul Awal 1333 H, bertepatan dengan tanggal 1 Juni 1914 M.
Sewaktu mengandung putra kelimanya ini, kondisi kesehatan Nyai Nafiqah agak memburuk. Badannya lemas dan sering sakit-sakitan. Karena itu, suatu hari, Nyai Nafiqah bernazar, “Jika nanti bayi yang aku kandung lahir dengan selamat, ia akan aku bawa ke guru ayahnya (Kiai Kholil, red) di Madura.”
Nazar mesti dipenuhi. Ketika berusia tiga bulan, bayi Abdul Wahid oleh Nyai Nafiqah dibawa ke Bangkalan, Madura untuk dipertemukan dengan Kiai Kholil. Suatu pengalaman spiritual untuk pertama kali dialami bayi Abdul Wahid.
Setibanya di kediaman Syaikhona Kholil, hari sudah merangkak malam. Cuaca ketika itu buruk, hujan turun disertai sambaran petir. Anehnya, dalam suasana seperti itu, Nyai Nafiqah beserta bayinya tidak diperkenankan masuk ke rumah. Oleh tuan rumah malah diminta tetap berada di halaman. Sudah tentu mereka harus berhujan-hujanan.
Kasihan melihat bayinya menggigil keterpa air hujan, Nyai Nafiqah mencoba menempatkannya di emperan rumah agar tidak kehujanan. Sambil menaruh bayi Abdul Wahid di bawah emperan, Nyai Nafiqah tak henti-hentinya melafadzkan “La ilaha illa Anta, ya hayyu ya qayyum”. Mengetahui hal ini, Syaikhona Kholil marah dan meminta agar bayi itu kembali dibawa ke tengah halaman. Nyai Nafiqah menuruti saja perintah itu.
Akhirnya, Syaikhona Kholil meminta kepada Nyai Nafiqah agar segera meninggalkan tempat itu. Tidak ada pilihan lain, Nyai Nafiqah pun pulang ke Jombang dengan seribu tanda tanya yang tidak terjawabkan ketika itu; kenapa Mbah Kholil berbuat seperti itu? Rupanya kejadian di luar kebiasaan itu menjadi salah satu pertanda bahwa Abdul Wahid kelak akan menjadi orang yang tergolong luar biasa. Ternyata hal itu terbukti di kemudian hari.
Tokoh Termuda
Kiprah KH. Abdul Wahid Hasyim sebagai tokoh muda di pentas politik nasional sudah tak diragukan lagi. Ketika Jepang membentuk badan yang bertugas meyelidiki usaha-usaha persiapan kemerdekaan atau dikenal BPUPKI, beliau merupakan salah satu anggota termuda setelah BPH. Bintoro, dari 62 orang yang ada. Waktu itu beliau berusia 33 tahun, sementara Bintoro 27 tahun. Sebagai tokoh muda, beliau juga diangkat menjadi penasehat Panglima Besar Jenderal Soedirman. Beliau juga merupakah tokoh termuda dari sembilan tokoh nasional yang menandatangani Piagam Djakarta, sebuah piagam yang melahirkan Proklamasi dan Konstitusi negara.
Di dalam kabinet pertama yang dibentuk Presiden Soekarno pada September 1945, KH. Abdul Wahid Hasyim ditunjuk menjadi Menteri Negara. Demikian juga dalam kabinet Sjahrir tahun 1946. Ketika KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) dibentuk, beliau menjadi salah seorang anggotanya dan meningkat menjadi BP-KNIP (Badan Pekerja KNIP) pada tahun 1946.
Setelah terjadi penyerahan kedaulatan dan berdirinya RIS, dalam Kebinet Hatta tahun 1950 beliau diangkat menjadi Menteri Agama. Jabatan Menteri Agama terus dipercayakan kepada beliau selam tiga kali kabinet, yaitu Kabinet Hatta, Natsir dan Kabinet Sukiman.
Beliau juga membidani terbentuknya Liga Muslimin Indonesia, sebuah federasi yang betujuan untuk menyatukan kekuatan umat Islam. Peresmiannya dilakukan di serambi Gedung Parlemen Pejambon pada tanggal 30 Agustus 1952, bertepatan dengan hari wukuf di Arafah pada musim haji tahun itu. Federasi ini berusaha mengatur rencana bersama mengenai langkah-langkah besar bagi kepentingan umat Islam di Indonesia dalam segala lapangan kehidupan.
***
Joke Segar sang Kiai
“Biarlah. Saya tidur di mushalla ini saja,” kata Kiai Wahid Hasyim, ketika melihat bahwa di atas kamar mandi ada mushalla. Waktu itu kebetulan beliau berkunjung ke rumah sahabatnya, KH. Syaifuddin Zuhri di Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah.
“Kami telah menyiapkan kamar buat Gus Wahid,” kata tuan rumah.
“Tak apa. Mushalla yang berbentuk panggung seperti ini mempunyai sirkulasi udara yang baik. Biasanya tidak banyak nyamuk. Kalau toh ada nyamuk ya biar saja. Anggap saja kita sedekah sedikit dengan darah kita kepada nyamuk-nyamuk itu,” jawab Kiai Wahid Hasyim.
Beliau memang terkenal memiiliki citra-rasa humor yang tinggi. Kepada siapa saja beliau biasa melemparkan joke-joke segar untuk mencairkan susana, sehingga komunikasi bisa berjalan lancar dan akrab. Kepada sopir beliau, hal yang sama juga berlaku.
“Wah ini ikan gurame, Rasyad!” seru Kiai Wahid Hasyim kepada sopir beliau.
“Ente tahu, orang yang suka makan gurame otaknya akan bertambah cerdas. Percaya apa tidak?” ujar beliau melanjutkan.
“Saya percaya. Tentu saja menjadi cerdas, karena orang selalu berpikir, bagaimana mendapatkan uang agar bisa makan ikan gurame setiap hari…,” jawab Rasyad setengah berseloroh. Serentak meledaklah tawa mereka. Mereka setuju, karena ikan gurame dikenal lezat dan mahal harganya.
Sewaktu terjadi perombakan kabinet dan nama Kiai Wahid Hasyim tidak tercantum lagi dalam daftar nama-nama anggota kabinet baru, beberapa orang tampaknya kecewa. Padahal yang bersangkutan cuek saja. Ketika mereka bertemu dengan Kiai Wahid Hasyim, kekecewaan itu langsung ditumpahkan kepada beliau.
“Kami merasa kecewa karena Gus Wahid tidak duduk lagi di kabinet,” kata H. Azhari.
“Tak usah kecewa. Saya toh masih bisa duduk di rumah. Saya mempunyai banyak kursi dan bangku panjang. Tinggal pilih saja,” jawab Kiai Wahid Hasyim sekenanya sehingga mengundang tawa yang hadir.
“Tapi kami tetap menyesal karena pemimpin kita tidak dipakai oleh pemerintah…,” ujar H. Ichwan.
“Kalau tidak dipakai oleh negara, biarlah saya pakai sendiri…,” sekali lagi Kiai Wahid Hasyim menjawab dengan santai dan penuh humor. Suara tawa kembali meledak.
“Kenapa yak, menjadi menteri kok Cuma sebentar?” tanya H. Azhari masih penasaran.
“Lho, kalau kita mengantarkan jenazah ke kuburan, pembaca talqin itu kan selalu mengingatkan kita; Wamal hayatuddunya illa mata’ul ghurur…. Memangnya orang yang menjadi menteri untuk selamanya?” tanya Kiai Wahid Hasyim. Kali ini dengan nada sedikit serius, menggunakan i’tibar yang pas.
[ Tim Redaksi]
Disarikan dari buku “Menapak Jejak Mengenal Watak Kehidupan Ringkas 29 Tokoh NU”
Lembaga Amil Zakat dan Infaq Al-Ma'un Sadar Berbagi …