Hajar memulai usahanya dari bukit Shafa yang arti harfiahnya adalah kesucian dan ketegaran, sebagai lambang bahwa untuk mencapai hidup harus dengan usaha yang dimulai dengan kesucian dan ketegaran dan harus diakhiri di Marwa yang berarti “ideal manusia, sikap menghargai, bermurah hati, dan memaafkan orang lain”. Adakah makna yang lebih agung berkaitan dengan pengamalan kemanusiaan dalam mencari kehidupan duniawi melebihi makna-makna yang digambarkan di atas?
Kalau thawaf menggambarkan larut dan meleburnya manusia dalam hadirat Ilahi atau, dalam istilah kaum sufi, al-fana’ fi Allah, maka sa’i menggambarkan usaha manusia mencari hidup, yang dilakukan begitu selesai thawaf agar melambangkan bahwa kehidupan dunia dan akhirat merupakan suatu kesatuan dan keterpaduan.
Dengan thawaf disadarilah tujuan hidup manusia dan setelah kesadaran itu, dimulai sa’i yang menggambarkan bahwa tugas manusia adalah berupaya semaksimal mungkin. Hasil usaha pasti akan diperoleh baik melalui usahanya maupun melalui anugerah Allah Swt, seperti yang dialami oleh Hajar a.s. bersama putranya, Isma’il, dengan ditemukannya air zam-zam.
-
Memaknai Wuquf di Arafah
Di Arafah, padang yang luas lagi gersang itu, seluruh jamaah wuquf (berhenti) sampai terbenamnya matahari.
Di sanalah jamaah haji seharusnya menemukan ma’rifah pengetahuan sejati tentang jati dirinya, akhir perjalanan hidupnya, serta di sana pula ia menyadari langkah-langkahnya selama ini. Di sana pula seharusnya bisa menyadari betapa besar dan agung Allah Swt yang kepada-Nya bersembah seluruh makhluk, sebagaimana diperagakan secara miniatur di padang Arafah tersebut. Kesadaran-kesadaran itulah yang mengantarkannya di padang Arafah untuk menjadi ‘arif (sadar) dan mengetahui.
Menurut Ibnu Sina, apabila kearifan telah menghiasi diri seseorang, maka Anda akan menemukan orang itu “selalu gembira, banyak senyum karena hatinya telah gembira sejak ia mengenal-Nya. Di mana-mana ia melihat satu saja, melihat Yang Mahasuci itu. Semua makhluk dipandangnya sama (karena memang semua sama, sama membutuhkan-Nya). Ia tidak akan mengintip-intip kelemahan atau mencari-cari kesalahan orang. Ia tidak akan cepat tersinggung walau melihat yang mungkar sekalipun. Karena jiwanya selalu diliputi oleh rahmat dan kasih sayang.
-
Muzdalifah dan Ritual Lempar Jumrah
Dari Arafah, para jamaah akan bergerak ke Muzdalifah untuk mengumpulkan senjata dalam menghadapi musuh utama, yaitu setan. Kemudian, melanjutkan perjalanan ke Mina dan di sanalah para jamaah haji melampiaskan kebencian dan kemarahan mereka masing-masing terhadap musuh yang selama ini menjadi penyebab segala kegetiran yang dialaminya. Batu dikumpulkan di tengah malam sebagai lambang bahwa musuh tidak boleh mengetahui siasat dan senjata kita.
***
Demikianlah, ibadah haji merupakan kumpulan simbol-simbol yang sangat indah. Apabila dihayati dan diamalkan secara baik dan benar, maka pasti akan mengantarkan setiap pelakunya ke dalam lingkungan Ilahi dan kemanusiaan yang benar sebagaimana dikehendaki oleh penciptanya, Allah Swt.
“Allahumma yassirlanaa wa li ahbaabinaa wa ash-haa-binaa
wa lijami’ilmu’miniina ziyaratan baitika wa nabiyyika wa habibika
sayyidina muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallam”
________
Disarikan dari buku “Membumikan Al-Quran”
Karya Prof. M. Quraish Shihab
Lembaga Amil Zakat dan Infaq Al-Ma'un Sadar Berbagi …