Breaking News

Buletin Al Ma’un Edisi XXXIII

Seorang santri, adalah seorang patriot pembela bangsa. Sejarah mencatat, bahwa perlawanan rakyat Indonesia terhadap penjajah juga banyak digerakkan oleh kaum santri. Perang Diponegoro di Jawa (1825-1830), dan perang Aceh (1875-1903) adalah bukti sejarah perlawanan kaum santri terhadap penjajah. Bahkan, founding father negara ini, mayoritas adalah santri. Maka, bagi siapapun yang mengaku dirinya sebagai santri, menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI adalah Harga Mati!

Karakter Santri

Karakter santri adalah cermin karakter muslim Indonesia. Dalam diri seorang santri, tertanam karakter-karakter mulia sebagai seorang muslim yang menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Karakter-karakter tersebut muncul sebagai hasil pendidikan dan gemblengan panjang seorang Kiai. Karakter-karakter baik yang ada pada diri santri patut kita jadikan pegangan dan teladan sebagai seorang muslim Indonesia.

  1. Akhlakul Karimah

Memiliki akhlakul karimah adalah karakter utama seorang santri. Akhlakul karimah selalu menjadi fokusan utama seorang kiai dalam mendidik santri-santrinya. Hal ini sejalan dengan nasihat Ibnu Mubarak, seorang ulama sufi, yang dikutip dari kitab Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, “Nahnu ilaa qaliilin minal adabi ahwaja minna ilaa katsirin minal ‘ilmi.” Kita lebih membutuhkan adab (meskipun) sedikit dibanding ilmu (meskipun) banyak.

  1. Ta’dzim Kepada Guru

Ta’dzim kepada guru adalah syarat dan akhlak mutlak yang harus dimiliki oleh seorang santri. Sikap ta’dzim kepada kiai, ulama, ustadz, dan guru merupakan ciri khas dan karakter dari seorang santri. Bagi seorang santri keberkahan ilmu adalah segala-galanya, dimana para guru yang mengajarkan ilmu tersebut menjadi kuncinya. Salah satu praktik ta’dzimnya seorang santri kepada gurunya yang sudah menjadi budaya bagi muslim Indonesia adalah mencium tangan kiai, ulama, ustadz dan guru. Syekh az-Zarnuji dalam karyanya Kitab Ta’limul Muta’alim menandaskan, “Siapa yang menyakiti gurunya, maka ia pasti terhalang keberkahan ilmunya, dan hanya sedikit saja ilmunya bermanfaat.”

  1. Jiwa Nasionalisme Yang Kokoh

Salah satu jiwa yang terus dipupuk di dada seorang santri adalah jiwa nasionalisme. Jiwa yang selalu memiliki rasa kecintaan terhadap tanah airnya, bangsanya dan negaranya. Bagi seorang santri, agama dan nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan. “Hubbul wathan minal iman” cinta tanah air adalah bagian dari iman.

  1. Kemandirian Kuat

Kemandirian adalah salah satu karakter pokok bagi seorang santri. Sikap untuk tidak mudah tergantung dengan orang lain adalah sikap seorang santri. Kemandirian santri juga bisa dikontekskan lebih luas baik dalam berbagai bidang, baik sosial, politik, ekonomi, dan pendidikan. Sangat banyak contoh tauladan santri terkait karakter kemandirian ini. Pesantren merupakan salah satu bukti monumen hidup tentang makna kemandirian kaum santri.

  1. Membela Kaum Lemah

Pada jiwa seorang santri, telah tertanam jiwa untuk menolong mereka yang lemah. Jiwa untuk membela kaum tertindas, para kaum mustadz’afin yang lemah dan dilemahkan.

Comments

comments

Pages ( 2 of 3 ): « Previous1 2 3Next »