Makna Santri
Prof. Dr. KH. Sahal Mahfudz, memiliki definisi tentang makna santri. Menurut Kiai Sahal, kata santri berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata “santaro”, yang mempunyai jama’ (plural) sanaatiir (beberapa santri). Di balik kata “santri” tersebut yang mempunyai empat huruf Arab (sin, nun, ta’, ra’), Kiai Sahal menjabarkan sebagai berikut:
-
Sin, yang bermakna dari lafadz “satrul aurah” (menutup aurat). Namun pengertian menutup aurat di sini mempunyai dua pengertian yang keduanya saling ta’aluq atau berhubungan. Yaitu menutup aurat secara tampak oleh mata (dhahiri) dan yang tersirat atau tidak tampak (bathini).
-
Nun, yang bermakna dari lafadz “na’ibul ulama” (wakil dari ulama). Kaitannya dengan na’ibul ulama, seorang santri di tuntut mampu aktif, merespon, sekaligus mengikuti perkembangan masyarakat yang diaktualisasikan dalam bentuk sikap dan perilaku yang bijak.
-
Ta’, yang bermakna dari lafadz “tarkul ma’ashi” (meninggalkan kemaksiatan). Dengan dasar yang dimiliki kaum santri, khususnya dalam mempelajari syari’at, kaum santri diharapkan mampu memegang prinsip sekaligus konsisten terhadap pendirian dan nilai-nilai ajaran Islam serta hukum adab yang berlaku di masyarakatnya selagi tidak keluar dari jalur syari’at.
-
Ra’, yang maknanya dari lafadz “raisul ummah” (pemimpin umat). Seorang santri memiliki peran dan tanggung jawab dalam hal pengembangan sosial masyarakat. Di sinilah diperlukan suatu mentalitas religius serta totalitas kesadaran.
Kata “Santri” (سنتري) juga bisa ditulis dengan lima huruf, sin (س), nun (ن), ta (ت), ra (ر), dan ya (ي). Dan jika dijabarkan akan memiliki makna yang luas dan beragam tentang makna santri.
KH. Hasyim, seorang ulama dari Desa Wonorejo memiliki jabaran terhadap makna masing-masing huruf tersebut. Sin, salik fil ibadih, yakni seorang santri jalur beribadahnya harus lurus, tekun dan kuat. Nun, na’ibun anis syuyukh, seorang santri harus mulai menata hati dan bercita-cita untuk meneruskan perjuangan para sesepuh. Santri harus menjadikan waktu adalah ilmu sehingga tidak ada waktu yang tersisa kecuali untuk menuntut ilmu. Ta, Ta’ibun anid dzunub, tobat dari kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan. Ra, Raghibun fil khairat, senang dengan hal-hal yang positif. Terakhir, Ya, yakin ala man an’amallahu ma’ah, menjadi santri harus yakin jika Allah sudah memberikan jatah rizki tetapi wajib dibarengi dengan usaha.
Senada dengan Kiai Hasyim, KH. Mukhlisin, pengurus yayasan Az-Zahro Sekuro juga memiliki definisi tentang identitas santri. Pertama, sitrul aurat, menutup aurat, baik aurat lahir maupun aurat bathin. Kedua, naha anil munkar, mencegah kemunkaran. Ketiga, taufiq, santri harus kuat untuk menjaga dirinya. Keempat, ra’isul ummah, ke depan santri adalah calon-calon pemimpin bangsa. Kelima, ya’kulu qalil, saat masih santri harus tirakat, sedikit makannya tidak berlebihan.
Di balik semua makna tentang santri tersebut, karakter santri adalah karakter jati diri Muslim Indonesia. Karakter yang telah dibangun ratusan tahun oleh para ulama sejak generasi Wali Songo dalam menyampaikan ajaran Islam di bumi Nusantara. Semoga kita sebagai Muslim Indonesia, selalu menjadi dan memiliki karakter santri, muslim yang selalu dekat dengan para ulama dan kiai untuk terus menggelorakan Jihad Ishlâhan, jihad untuk melakukan perbaikan dan pembenahan di segala sektor sendi kehidupan. [Tim Redaksi]
Lembaga Amil Zakat dan Infaq Al-Ma'un Sadar Berbagi …