Dalam konteks ikhlas, para ulama menggarisbawahi lawan keikhlasan, yaitu riya’. Sementara ulama mendefiniskannya sebagai kegiatan yang dimaksudkan oleh pelakunya untuk dilihat/didengar orang lain demi meraih kekaguman mereka. Tetapi, ini bukan berarti bahwa amalan yang dipuji dan mendapat kekaguman dari orang lain dan pelakunya dengan pujian itu menjadikan amalannya bercampur riya’. Tidak! Dalam konteks ini, Nabi saw. bersabda ketika ditanya tentang hal di atas : “Itu adalah berita gembira yang disegerakan untuk orang-orang mukmin” (HR. Muslim).
Sebaliknya, ada orang-orang yang karena kekhawatiran dituduh riya’ sehingga meninggalkan suatu kegiatan yang bermanfaat atau sunnah, misalnya seseorang enggan shalat sunnah karena khawatir dituduh riya’ bila dilakukannya di depan umum. Pada hakikatnya, kekhawatirannya itu tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak shalat, bahkan bisa jadi keengganannya sama dengan riya’nya orang yang shalat bukan karena Allah. Keenganannya itu adalah bisikan setan yang menghalanginya melakukan kebaikan sehingga harus dilawan dengan melakukan kebaikan itu walau khawatir dituduh riya’. Imam an-Nawawy (1277M) berkata: “Siapa yang telah bertekad melakukan suatu kebajikan, lalu ia mengurungkan niatnya karena khawatir dituduh riya’, maka pada hakikatnya ia telah riya’.” Orang bijak berkata: “Kalau Anda sedang melakukan kebaikan dengan tulus, lalu terlintas dalam benak Anda bahwa itu adalah riya’, maka ketahuilah bahwa itu bisikan setan. Patahkan upayanya dengan menambah kebaikan Anda.” Demikian sementara ulama berpendapat.
Sekian banyak tuntunan yang dapat mengantar seseorang berlaku ikhlas, antara lain:
-
Tanamkan dalam jiwa bahwa kita adalah hamba Allah yang dilimpahi-Nya aneka nikmat sehingga kita harus mengabdi tanpa menanti imbalan.
-
Sadari betapa kekurangan kita yang dapat mengundang murka Allah dan betapa kebaikan yang kita amalkan selama ini boleh jadi telah ternodai. Karena itu, jangan “sucikan diri” dan jangan merasa amal kita telah terjamin diterima Allah walau tetap optimistis dan bersangka baik kepada Allah.
-
Biasakan melakukan amal kebajikan secara rahasia, kecuali yang memang harus dilaksanakan secara nyata. Katakanlah seperti ibadah haji dan Shalat Jum’at.
-
Jangan terpengaruh dengan pujian atau celaan orang. Jangan juga oleh sulitnya meraih keikhlasan yang menyebabkan kita berputus asa melanjutkan upaya kita yang sederhana karena ada hamba Allah yang dinamai-Nya mukhlasin, yakni yang Allah pilih dan Dialah Yang Mahakuasa itu yang melakukan pengikhlasan/pembersihan hatinya. Dalam al-Qur’an, kata mukhlash terulang sebanyak delapan kali dan mereka itu dipilih Allah setelah terbukti upaya dan kesabaran mereka menghadapi aneka ujian.
-
Jangan bosan berdoa agar dianugerahi keikhlasan. Suatu ketika Nabi saw. berkhutbah:
“Wahai manusia! Hindarilah syirik (riya’). Ini karena ia lebih tersembunyi daripada langkah-langkah semut.” Hadirin bertanya: “Bagaimana kami menghindarinya?” Nabi saw. menjawab: “Berdoalah. Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui dan kami memohon ampunan-Mu dari apa yang kami tidak ketahui” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)
Akhirnya, dengan keikhlasan amal yang sedikit berbuah banyak, Nabi saw. bersabda yang artinya: “Ikhlaslah dalam melaksanakan agamamu, niscaya cukup bagimu amal yang sedikit” (HR. Abu Nu’aim)
Buah keikhlasan adalah ketenangan batin, rasa bahagia yang tidak terlukiskan kendati semua yang dimiliki telah dipersembahkan. Semoga kita sebagai hamba-Nya dianugerahi keikhlasan dalam setiap amal ibadah kita.
Disarikan dari buku “Yang Hilang Dari Kita Akhlak”
Karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab
Lembaga Amil Zakat dan Infaq Al-Ma'un Sadar Berbagi …